PeLAKON NEWS 

LAKON INDONESIA 
a cultural platform

Dengan menyadari pentingnya peran publik di bidang sosial-budaya. Lakon Indonesia hadir sebagai upaya untuk memberdayakan dan mendorong kreasi komunitas. Sebagai langkah awal gerakan ini, Lakon Indonesia melahirkan Teras Lakon yang akan bertempat di Summarecon Serpong - sebuah 'laboratorium' publik yang ditujukan sebagai pusat pelatihan, kolaborasi, dan kreasi publik khususnya dalam seni dan kerajinan di era modern. 

Tentang Lakon

PeLAKON
a fashion brand

Merupakan bagian penting dalam Lakon Indonesia. Lakon sebagai fashion brand secara khusus ditujukan untuk memberi sumbangsih nyata di bidang cotemporer modern Indonesia, tepatnya di industri mode. Selalu ada cerita di balik layar.

LAKON STORE
a concept behind

Lakon store dibawah Lakon Indonesia hadir untuk pertama kalinya di Mall Kelapa Gading 5. Menaungi lebih dari 150 brand lokal yang bergerak di bidang fashion dan lifestyle.

Seni dan kerajinan lokal ini menjadi dua pelakon utama yang melakoni cerita mereka masing-masing. Dengan tujuan mengangkat dan mebagikan kisah mereka pada dunia, Lakon store, saat ini dan seterusnya, adalah panggung mereka.

Kali ini, bertepatan dengan perayaan bulan kemerdekaan Indonesia, Lakon Indonesia kembali akan memberikan presentasi dari visi misinya melalui dukungan serta kontribusi pada berbagai kegiatan yang dapat memajukan seni dan budaya di Indonesia.

Tentang

Swara

Gembira

Lakon Indonesia mendukung dan menyokong Swara Gembira, sebuah paguyuban muda-mudi Indonesia untuk menyelenggarakan dua buah Pagelaran Seni dan Budaya dengan kemasan modern, pada tanggal 10 dan 23 Agustus 2019.

Swara Gembira adalah wadah perjuangan muda-mudi untuk mengembalikan kejayaan seni budaya Indonesia yang terus tergerus akan derasnya arus hiburan mancanegara. Melalui karyanya, Swara Gembira terus menggebrak industri hiburan dengan menggabungkan ratusan pelaku seni lintas disiplin mulai dari musisi, penari, penata busana, penata rias, hingga penata grafis yang terajut melalui pergelaran bergaya modern.

Lahir dari sebuah mimpi besar di tahun 2017, Swara Gembira telah berhasil menyajikan 8 pergelaran. Dimulai dari pergelaran apresiasi atas karya Guruh Sukarno Putra hingga pergelaran untuk Bapak Presiden Ir. H. Jokowi beserta tamu kehormatan negara lainnya, pergelaran Swara Gembira kini telah dihadiri lebih dari 15 ribu pengunjung yang haus akan semarak pertunjukan kolosal.

Swara Gembira kini tumbuh menjadi sebuah paguyuban dengan lebih dari 200 muda-mudi yang gegap gempita memperjuangkan seni budaya Indonesia. Tak luput pula lebih dari 10 ribu pengikut setia media sosial Swara Gembira yang penuh gelora mencinta rangkaian karya cipta bagi Nusantara

Tentang Bidadari Bidadara

Busana & Grafis
Bidadari Bidadara Berzirah Adi Busana

Tanggal 10 Agustus 2019,Swara Gembira ingin memnceritakan tentang keindahan yang disediakan oleh tanah air sendiri. Mulai dari beragam macam jenis corak yang diterapkan pada model atau trend busana yang kekinian sehingga adanya perpaduan antara budaya dan trend modern. Oleh karena itu, Swara Gembira ingin menyampaikan pesan tersebut melalui kreasi dalam busana.

Koleksi busana Bidadari Bidadara terinspirasi dari lima penjuru daerah; Bali, Sumatera, Sulawesi Selatan, Jawa dan Sunda.

Koleksi busana Sumatera bercerita luas dari penjuru utara hingga ke selatan. Busana wanita bercelana dengan kain dan kerudung pada bawahan seperti Cut Nyak Dien, yang pada pagelaran ini mewakili busana Aceh dan Sumatera Utara. Selendang dan baju kurung mewakili daerah Sumatera Barat & Selatan. Motif songket dengan berakar pada budaya Palembang dikembangkan sedemikian rupa untuk bercerita tentang bagaimana sila lima Pancasila tertawan dalam ancaman.

Busana bawahan Sulawesi Selatan dengan seni lilit atas gaya dasar sarung. Sarung dibuat dengan sutera India yang kemudian dibatik cap beridentitas Indonesia. Pada bagian atasan Swara Gembira mengembangkan beragam desain baju bodo, atasan berukuran besar tanpa belahan. Kipas yang digunakan pada tarian Pakarena dikembangkan sedemikian rupa dengan bahan yang sama dengan bahan busananya.

Busana Jawa banyak berekreasi pada corak kain. Berakar pada motif kain parang, Swara Gembira mengembangkan desain tentang sila dua Pancasila dengan unsur grafis rantai yang melambangkan kesetaraan antara pria dan wanita. Ilustrasi pria dan wanita pun dibuat untuk dapat bercerita bahwa ketika tercapai kesetaraan, maka umat manusia senantiasa akan harmonis dalam asmara. Yang tentunya tak kalah penting adalah busana khas Sunda bercerita tentang kreasi tari topeng Losari, yang dikembangkan dengan corak fauna Indonesia untuk memberi warna baru pada busana tradisi.

Materi grafis yang tertera pada halaman muka banyak bercerita tentang gaya desain yang berkembang pada awal abad 20. Seni kubisme dipilih selaku gaya grafis klasik barat pada masa tersebut. Begitu pula dengan pemilihan font yang diciptakan pada tahun 1905. Gaya desain ini dipilih untuk melambangkan semangat perjuangan Swara Gembira karena pada awal abad 20 lah banyak pejuang bangsa mulai dari Bung Karno hingga Bung Hatta lahir. Mereka lah para pejuang bersama ribuan lainnya yang gugur di medan perang bersama menggapai kemerdekaan di tahun 1945.

Swara Gembira mengembangkan seluruh komponen pada materi grafisnya dengan unsur Ke-Indonesiaan. Ilustrasi cumbuan seorang bidadari dan bidadara sebagai tokoh utama dengan warna utama emas hitam yang menjadi panduan warna pada pagelaran ini. Sang bidadara mengenakan udeng Bali berwarna merah. Tokoh utama ini kemudian dihias oleh ragam penari yang akan meramaikan pagelaran tersebut mulai dari penari piring, penari Kecak Bali, hingga penari Pakarena Makassar. Terdapat pula unsur topeng Losari Cirebon dan bunga nasional Indonesia yaitu bunga melati.   

Cenderamata Istimewa

Kolaborasi LAKON Indonesia bersama Swara Gembira semakin istimewa dengan kehadiran cenderamata bagi para kawula. Karya pertama yang dicipta tiada lain adalah tas jinjing, yang dikemas sedemikian rupa bergaya kerut, untuk membawa pesan keindahan seni ikat mengikat (drappery) yang menjadi identitas seni busana Indonesia. Dibuat dengan bahan kulit dan bulu sintetis berwarna hitam, material tersebut kemudian diolah dengan teknik cetak bercorak kain prada berwarna perak. Corak ini pada umumnya terjadi tradisi pada tarian Legong Bali yang kemudian dikembangkan secara kontemporer.

Untuk menghias karya pertama, diciptakan pula baju atasan bergaya klasik barat, dibuat dengan bahan katun bercorak sama. Cenderamata ini tersedia pada LAKON Store serta dapat dibeli pada hari acara.

Babak

Pergelaran

babak pertama

Kecak Bidadara & Bedhaya Bidadari 2020

Babak pembuka yang menceritakan sekelompok Bidadara yang turun ke bumi dan menjelma sebagai petapa, pemangku, dan hanuman. Tari Kecak Bali dipilih sebagai tari pembuka karena sejarah unik yang dimiliki oleh Senayan, dimana nama tersebut berasal dari kata "Wangsanayan", seorang berpangkat letnan yang berasal dari Bali dan kemudian tinggal di Batavia. Tari Kecak yang kuat akan unsur gotong royong ini dikembangkan sedemikian rupa sehingga memiliki syair yang tetap dinyanyikan dengan gaya celoteh Kecak Bali. Para Bidadara melalui lagunya berkeluh kesah tentang umat manusia yang kian lupa akan budaya dan berdusta akan jiwa sejatinya.

Bidadari pun turut turun dari kahyangan sesaat setelahnya, berusaha menggoda para petapa layaknya tradisi cerita dalam kisah Mahabrata. Sembilan Bidadari ini lalu mempersembahkan tari Bedhaya, yang terkenal akan kegemulaiannya. Mereka turut berkisah pada insan manusia, agar tidak menutup hati dan lebih hati-hati dalam membuka hati. Syair yang diciptakan khusus oleh Swara Gembira pada babak tersebut turut bercerita secara lugas akan pergelaran ini serta diimbuhi oleh sepotong syair yang berasal dari lagu Indonesia Raya dan Ibu Pertiwi.

babak kedua

Keadilan yang Tak Kunjung Datang

Babak kedua bercerita tentang dua pengembara yang gusar akan kejamnya dunia yang penuh dengan penindasan dan ketidakadilan akibat nihilnya seni budaya. Diiringi oleh tari Piring yang berasal dari Sumatera, dua pengembara ini turut menyuarakan kekecewaan ketika kesedihan hanya menjadi tontonan bagi mereka yang diperkuda jabatan.

babak ketiga

Musuh Dalam Selimut

Babak ketiga dibuka dengan sketsa yang diceritakan oleh dua maling yang mencemooh dan berteriak di sekitarnya selaku maling. Kedua penguasa yang merasa paling benar, merasa telah berjuang bagi bangsa namun lupa bahwa mereka menebar racun di dalam tanah Ibu Pertiwi. Sesaat mereka sadar, tak luput mereka dikejar oleh ratu adil yang hadir menuntut kebenaran dan menghukum musuh yang sebenarnya. Babak ini akan dipentaskan oleh ragam tarian dan busana yang berasal dari budaya Jawa & Sunda.

babak keempat

Sandiwara yang harus Berhenti

Babak keempat bercerita tentang seorang wanita meratapi manusia yang penuh baku tanya dan laku nista, menangis dalam hati karena insan manusia tak henti berperan penuh pura-pura. Babak ini turut dipentaskan dengan tari Pakarena dari Sulawesi Selatan yang sudah dikembangkan sedemikian rupa.

babak kelima

Topeng Losari

Babak kelima merupakan babak instrumentalla, dengan tari topeng Losari yang bercerita amarah sang Rahwana melihat tingkah laku umat manusia. Tarian ini disajikan dengan busana yang sudah dikreasikan dengan bahan bermotif fauna Indonesia serta musik yang terorkestrasi agar dapat dinikmati muda mudi yang memadati wahana perhelatan.

penutup

Cikal Bakal Seni Budaya

Kelana Bidadari Bidadara akhrinya berhasil merasuk dalam sanubari umat manusia, dan menjadi cikal bakal tumbuh berkembangnya seni budaya di bumi tercinta. Seluruh pementas dengan koleksi busana istimewa karya Swara Gembira hadir dengan lantunan lagu pengantar perpisahan bagi seluruh pencinta seni budaya Indonesia.